Login
Section Articles

Emotion Regulation Patterns in Individual Psychological Context

Pola Pengaturan Emosi dalam Konteks Psikologis Individu
Vol. 27 No. 1 (2026): January:

Arief Sri Wicaksana Putra Sadewa (1)

(1) Program Studi Psikologi, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia

Abstract:

General Background Emotion regulation is a fundamental psychological process influencing individual behavior and well-being. Specific Background Various studies have examined emotion regulation in different contexts, including education, work, and interpersonal relationships. Knowledge Gap However, limited studies focus on the consistency of emotion regulation patterns across individual conditions and contextual variations. Aims This study aims to examine emotion regulation patterns and their association with individual psychological conditions. Results The findings indicate that individuals demonstrate varying levels of emotion regulation depending on situational and personal factors, with measurable differences across observed subjects. Novelty This study contributes by presenting an integrated perspective of emotion regulation within specific individual contexts. Implications The results highlight the importance of understanding emotion regulation as a basis for psychological interventions and personal development strategies.


Keywords: Emotion Regulation, Psychological Behavior, Individual Differences, Emotional Control, Mental Processes


Key Findings Highlights



  1. Emotional responses vary across situational conditions

  2. Individual traits shape regulation patterns

  3. Observed variations indicate measurable behavioral differences

Regulasi Emosi Pada Karyawan Juru Parkir Dinas Perhubungan

Arief Sri Wicaksana Putra Sadewa

Program Studi Psikologi, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia

*Email Penulis Korespondensi: arief.putra.sadewa@gmail.com

Abstrak. Terdapat banyak masalah yang dialami oleh juru terkait dengan pengendalian emosi juru parkir dalam menjalankan tugas dan tanggungjawabnya. Ada berbagai tantangan juru pakir dalam menjalankan tugasnya, seperti masyarakat yang tidak patuh terhadap rambu parkir, sulit untuk diberikan masukan atau perintah serta kondisi lingkungan yang panas, memicu adanya emosi dalam diri juru parkir dalam menjalankan tugas. Tujuan dari penelitian ini dilakukan yaitu untuk mengetahui gambaran regulasi emosi pada karyawan juru parkir. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif, dengan jenis penelitian deskriptif. Regulasi emosi diukur dengan skala Emotional Regulation Questionnaire (ERQ) yang disusun oleh Gross dan telah diadopsi penelitian Sulanjari (2018), dan dianalisis dengan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gambaran regulasi emosi pada karyawan juru parkir menunjukkan bahwa sebagian besar karyawan juru parkir memiliki regulasi emosi dalam kategori cukup tinggi yaitu 40%. Berdasarkan usia dan lama bekerja, karyawan yang memiliki regulasi emosi rendah tertinggi yaitu usia di atas 35 tahun.

Kata kunci - Regulasi Emosi, Karyawan Juru Parkir, Pengendalian Emosi.

Abstract . There are many problems experienced by interpreters related to emotional control of parking attendants in carrying out their duties and responsibilities. There are various challenges for parking attendants in carrying out their duties, such as people who do not obey parking signs, it is difficult to give input or orders as well as hot environmental conditions, triggering emotions in parking attendants in carrying out their duties. The purpose of this study was to determine the description of emotional regulation in parking attendant employees. The research was conducted with a quantitative approach, with the type of descriptive research. Emotional regulation is measured by the Emotional Regulation Questionnaire (ERQ) scale compiled by Gross and has been adopted by Sulanjari's research (2018), and analyzed by descriptive statistics. The results showed that the description of emotional regulation on parking attendant employees showed that most parking attendant employees had emotional regulation in the fairly high category, namely 40%. Based on age and length of service, employees who have the highest low emotional regul ation are over 35 years of age.

Keywords - Emotion Regulation, Parking Attendant Employees, Emotion Control.

  1. Pendahuluan

Hasil survei Pendidikan dan Pembinaan Manajemen (PPM) pada tahun 2020 menunjukkan bahwa 80 persen karyawan di Indonesia mengalami gejala stres mulai dari level sedang sampai berat. Karyawan yang mengalami stres tersebut rata-rata dialami oleh karyawan dengan rentang usia 26 sampai 35 tahun sebesar 83 persen, karyawan usia 36 sampai 45 tahun sebesar 79 persen dan karyawan berusia di bawah 25 tahun sebesar 78 persen. Kondisi stres berlebihan yang dialami oleh karyawan tersebut berdampak pada kondisi karyawan, sehingga pelaksanaan tugas akan terhambat.

Regulasi emosi merupakan kemampuan individu dalam memodifikasi emosi dan mengatur emosi. Teknik dari regulasi diri berdasarkan pada belajar menafsirkan situasi dengan cara yang berbeda untuk mengelola situasi tersebut dengan lebih baik, dimana mengubah target emosi seperti marah dengan cara yang memungkinan untuk lebih positif. Berdasarkan pendapat Gross , regulasi emosi sebagai cara yang dimiliki dan dilakukan individu mempengaruhi emosi yang dimiliki, kapan merasakannya dan bagaimana mereka mengalami atau mengekspresikan emosi tersebut. Kemampuan yang baik yang dimiliki individu akan meningkatkan kemampuannya dalam menghadapi berbagai situasi yang terjadi.

Temuan awal peneliti menunjukkan bahwa karyawan juru parkir di wilayah Dinas Perhubungan Kabupaten Sidoarjo kurang sabar dan terkadang mudah emosi saat melayani jasa parkir. Penulis telah melakukan wawancara dengan karyawan juru parkir di wilayah Dinas Perhubungan Kabupaten Sidoarjo yang berinisial AA, pada 7 Juni 2021. Berikut kutipan wawancara yang dimaksud.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai wawasan keilmuan terutama di bidang psikologi, terutama psikologi Industri dan Organisasi.

  1. Latar belakang masalah
  2. Tujuan penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah dipaparkan di atas, maka tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran regulasi emosi pada karyawan juru parkir di wilayah Dinas Perhubungan Kabupaten Sidoarjo.

  1. Metode

Penelitian ini termasuk dalam penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif adalah penelitian dimana dalam penarikan kesimpulan berdasarkan hasil pengujian hipotesis statistik, dengan menggunakan data eksperimen mulai dari pengumpulan data hingga pengukuran. Penelitian ini termasuk dalam tipe penelitian kuantitatif deskriptif. Penelitian deskriptif yaitu penelitian untuk membuat deskrips, gambaran dengan sistematis, factual dan akurat terkait dengan fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang akan diselidiki . Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran regulasi emosi pada karyawan juru parkir Dinas Perhubungan Kabupaten Sidoarjo.

Variabel adalah konsep yang mempunyai variasi nilai atau mempunyai lebih dari satu nilai, keadaan, kategori atau kondisi. Penelitian ini terdiri dari satu variabel yaitu regulasi emosi.

Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui gambaran regulasi emosi. Menurut pandangan Gross 1, regulasi emosi adalah cara individu memiliki dan mempengaruhi emosi yang dimilikinya, kapan merasakannya, dan bagaimana ia mengalami atau mengekspresikan emosi tersebut. Regulasi emosi dalam penelitian ini diukur dengan skala Emotional Regulation Questionnaire (ERQ) yang disusun oleh Gross dan diterjemahkan oleh Sulanjari (2018). Kemampuan yang baik yang dimiliki individu akan meningkatkan kemampuannya dalam menghadapi berbagai situasi yang terjadi. Variabel regulasi emosi dalam penelitian ini diukur dengan tiga aspek sesuai pendapat Gross , yaitu kemampuan strategi regulasi emosi, kemampuan tidak mudah terpengaruh emosi negatif, dan kemampuan mengontrol emosi.

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan skala psikologi. Skala psikologi adalah skala yang digunakan untuk mengungkap mengenai respons seseorang terhadap suatu kondisi yang disajikan dalam suatu pernyataan dalam skala tersebut. Pada skala psikologi, tidak mengenai jawaban benar dan salah karena seluruh pilihan jawaban yang diberikan oleh seseorang dianggap jawaban yang benar meskipun tingkat skornya dapat berbeda-beda antar jawaban. Selain itu, skala psikologi dibuat dengan menetapkan konstrak yang hendak diungkap dalam penelitian. Konstrak menghasilkan komponen dan/atau indikator perilaku. Indikator perilaku menghasilkan butir atau item pernyataan. Butir pernyataan tersebut kemudian dianalisis dan divalidasi baik dari segi ketepatan butir pernyataan dalam mencerminkan kontrak maupun segi efektivitas bahasa yang digunakan. Proses analisis dan validasi dilakukan oleh para ahli. Selanjutnya, skala psikologi diuji coba pada sekelompok orang guna mendapatkan data tentang daya beda butir pernyataan dan reliabilitas. Setelah data tersebut diperoleh, maka skala psikologi difinalisasi. Pada akhirnya, peneliti dapat membuat kategorisasi atau klasifikasi skor dan skala psikologi siap digunakan .

Pada penelitian ini, digunakan satu skala psikologi yaitu skala regulasi emosi dengan menggunakan model skala likert. Skala regulasi emosi yang digunakan berbentuk skala Likert dengan tujuh pilihan jawaban, yaitu sangat tidak setuju, tidak setuju, agak tidak setuju, netral, agak setuju, setuju dan sangat setuju. Skala psikologi ini digunakan mengingat bahwa data yang ingin diukur berupa konstruk atau konsep psikologi yang ingin diungkap secara tidak langsung melalui aspek-aspek perilaku yang diterjemahkan dalam butir-butir pernyataan. Alat ukur regulasi emosional penelitian ini diterjemahkan dari Emotional Regulation Questionnaire (ERQ) yang disusun oleh Gross dan telah diadopsi penelitian , yang terdiri dari dari aspek kemampuan strategi regulasi emosi, kemampuan tidak mudah terpengaruh emosi negatif, dan kemampuan mengontrol emosi. Berikut blue print regulasi emosi dalam penelitian:

Tabel 1. Blue Print Regulasi Emosi

No Aspek Indikator No Aitem Jumlah Aitem
Favorable Unfavorable
123 Kemampuan strategi regulasi emosiKemampuan tidak mudah terpengaruh emosi negativeKemampuan mengontrol emosi Memiliki keyakinan mengatasi suatu masalahMampu menemukan suatu cara yang dapat megurangi emosi negatifDapat menenangkan diri kembali setelah merasakan emosi yang berlebihanMampu merasakan emosi positifMampu mengontrol emosi yang dirasakan dan respon yang ditampilkan (respon fisiologis, tingkah laku dan nada suara)Mampu menerima suatu peristiwa yang menimbulkan emosi negatifMampu menerima emosi 15, 8, 1, 22, 2951, 44, 37, 58, 6510, 17, 3, 31, 2439, 53, 46, 67, 6019, 12, 5, 33, 2655, 41, 48, 69, 6221, 7, 14, 28, 3535 50, 43, 36, 64, 5723, 30, 16, 9, 266, 52, 59, 45,3832, 25, 18, 11, 454, 40, 47, 68, 6120, 13, 34, 6, 2770, 63, 56, 42, 4935 1010101010101070
Jumlah

Uji validitas menunjukkan tentang ketepatan sasaran dalam mengukur, artinya skala psikologi sebagai alat ukur hendaknya memiliki validitas yang tinggi yaitu tepat mengukur variabel yang dikehendaki. Standar pengukuran yang digunakan untuk menentukan koefisien validitas aitem adalah apabila rix= ≥0,30maka suatu aitem dikatakan valid. Uji validitas juga dapat dilakukan dengan perbandingan nilai rhitung dan rtabel, dimana aitem dapat dinyatakan valid jika memperoleh nilai rhitung > rtabel [5]

Pengujian validitas dan reliabilitas dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan 30 responden. Berikut hasil uji validitas dalam penelitian ini diketahui untuk aitem pernyataan p12, p13, p14, p15, p26, p41, p42, p45, p54, p60, p66 dan p69 memperoleh nilai r hitung kurang dari r tabel sehingga dinyatakan tidak valid. Pada penelitian ini aitem yang tidak valid akan dieliminasi atau dianggap gugur.

Reliabilitas berhubungan dengan tingkat keakuratan skor (angka) yang dihasilkan oleh instrumen pengukuran. Selain itu, reliabel juga berkaitan dengan tingkat konsistensi instrumen pengukuran menunjukkan hasil yang hampir sama ketika digunakan di lain waktu. Skor reliabilitas bergerak dari 0 sampai dengan skor 1. Semakin mendekati skor 1, maka alat ukur memiliki reliabilitas yang semakin tinggi. Skor reliabilitas yang sangat disarankan adalah 0,900; skor reliabilitas 0,800 dinilai sudah bagus untuk alat ukur psikologi dan skor 0,700 dianggap sudah memuaskan (Saifuddin, 2020:9). Berikut hasil uji reliabilitas dalam penelitian:

Tabel 2. Hasil Uji Reliabilitas

Reliability Statistics
Cronbach's Alpha N of Items
0.948 58

Sumber: Output SPSS (2022)

Berdasarkan tabel di atas, diperoleh nilai cronbach’s alpha sebesar 0,948 > 0,7. Artinya aitem pernyataan skala regulasi dalam penelitian ini dinyatakan reliabel dengan kategori sangat bagus.

  1. Tipe Penelitian
  2. Variabel Penelitian
  3. Definisi Operasional Variabel
  4. Teknik Pengumpulan Data
  5. Validitas dan Reliabilitas
  6. Teknik Analisa Data

Teknik analisis data dalam penelitian ini akan disesuaikan dengan tujuan penelitian yaitu untuk gambaran regulasi emosi pada karyawan juru parkis Dinas Perhubungan Kabupaten Sidoarjo, sehingga penelitian ini penulis menggunakan analisis statistik deskriptif dan kategorisasi. Stattistik deskripsi digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan data yang telah diperoleh. Berdasarkan pendapat , statistik deskripsi merupakan penyajian data melalui tabel, grafik diagram, lingkaran, pictogram, perhitungan, modus, median, rata-rata, standar deviasi, dan perhitungan persentase.

Adapun analisis kategorisasi menurut , kategorisasi memiliki tujuan untuk menempatkan individu ke dalam kelompok terpisah dengan berjenjang menurut suatu kontinum berdasarkan atribut yang diukur. Untuk menentukan kategorasi diperlukan mean teoritik dan satuan standart devasi populasi. Standar deviasi dapat dihitung dengan mencari rentang skor, yaitu skor maksimal dan dikurangan dengan skor minimal, yang kemudian rentang skor tersebut dibagi enam. Berikut rumus yang digunakan utuk membuat kategorisasi pada penelitian ini:

Skor maksimal instrument= Jumlah soal x skor skala terbesar

Skorminimal instrument= Jumlah soal x skor skala terkecil

Mean teoritik (μ)= ½ (Skor maksimal + Skor mnimal)

Standar devuasu populasi (σ)= (Skor maksimal - Skor mnimal)

Dari perhitungan di atas, setiap responden akan digolongkan dalam empat kategori sebagai berikut:

Tabel 3. Rumus Empat Kategori

Rentan Skor Ketegori
X >μ + 1 σμ <X ≤ μ + 1 σμ - 1 σ < X ≤ μ TinggiCukup tinggiCukup rendah
X ≤ μ - 1 σ Rendah

Keterangan:

X= Skor total responden

  1. Hasil Dan Pembahasan

Responden dalam penelitian ini adalah 206 karyawan juru parkir wilayah Dinas Perhubungan Kabupaten Sidoarjo. Karakteristik responden meliputi umur serta lama bekerja.

Tabel 4. Klasifikasi Umur Responden

Umur Jumlah Responden Prosentase
20-25 tahun 30 14,6%
26-30 tahun 41 19,9%
31-35 tahun 50 24,3%
Di atas 35 tahun 85 41,3%
Jumlah 206 100%

Sumber: Hasil Output SPSS, diolah (2022)

Tabel di atas menunjukkan bahwa dari 206 reponden, 30 responden dengan prosentase 14,6% berumur 20 sampai 25 tahun, sebanyak 41 orang dengan prosentase 19,9% berumur

26 sampai 30 tahun, sebanyak 50 orang dengan prosentase 24,3% berumur 31 sampai 35 tahun dan sebanyak 85 orang dengan prosentase 41,3% berumur di atas 35 tahun. Terkait demikian, sebagian besar responden berumur di atas 35 tahun.

Tabel 5. Klasifikasi Lama Bekerja Responden

Lama Bekerja Jumlah Responden Prosentase
3-5 tahun 23 11,2%
Di atas 5 tahun 160 77,7%
Di bawah 3 tahun 23 11,2%
Jumlah 206 100%

Sumber: Hasil Output SPSS, diolah (2022)

Tabel di atas menunjukkan bahwa dari 206 responde, 23 responden dengan prosentase 11,2% telah bekerja selama tiga sampai lima tahun, sebanyak 160 responden dengan prosentase 77,7% telah bekerja di atas lima tahun dan sebanyak 23 responden dengan prosentase 11,2% telah bekerja di bawah tiga tahun. Terkait demikian, sebagian besar responden telah bekerja di atas lima tahun.

Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah data distribusi normal atau tidak normal. Pada penelitian ini, uji normalitas dengan melihat kurva normal probablity plot dengan ketentuan jika titik-titik pada grafik menyebar dan terhimpit mengikuti sekitar garis diagonal maka data yang digunakan berdistribusi secara normal. Berikut hasil uji normalitas penelitian ini:

Gambar 1. Hasil Uji Normalitas Probability Plot

Gambar di atas menunjukkan bahwa data dengan normal p-p plot pada variabel regulasi emosi yang digunakan dinyatakan berdistribusi normal atau mendekati normal. Hal tersebut dikarenakan titik-titik pada gambar distribusi terlihat menyebar atau mendekati di sekitar garis diagonal dan penyebaran titik-titik data searah dengan mengikuti garis diagonal.

Pengujian normalitas data juga dapat dilakukan dengan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov, dimana dapat dinyatakan normal jika memperoleh nilai sigifikansi lebih dari 0,05. Berikut hasil uji normalitas Kolmogorov-smirnov dalam penelitian ini:

Tabel 6. Hasil Uji Normalitas

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Regulasi Emosi
N 206
Normal Parametersa,b Mean 263.06
Std. Deviation 28.641
Most Extreme Differences Absolute .129
Positive .075
Negative -.129
Test Statistic .129
Asymp. Sig. (2-tailed) .158c
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
c. Lilliefors Significance Correction.

Sumber: Hasil Output SPSS (2022)

Berdasarkan tabel di atas, diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,158 atau lebih dari 0,05. Terkait demikian, data dalam penelitian ini terdistribusi normal dan dapat dianalisis lebih lanjut.

  1. Karakteristik Responden
  2. Hasil Uji Normalitas Data
  3. Analisis Data

Analisis data penelitian ini dilakukan dengan kategorisasi. Kategorisasi dalam penelitian ini menggunakan bantuan program SPSS versi 24. Skala regulasi emosi pengelompokan subjek dilakukan dengan membuat 4 kategorisasi, yaitu tinggi, cukup tinggi, cukup rendah dan rendah. Secara sederhana tujuan kategorisasi ini yaitu untuk menempatkan individu kedalam kelompok-kelompok secara terpisah dan berjenjang yang diharapkan bisa memberikan gambaran secara jelas. Sebelum melakukan kategorisasi, perlu dihitung terlebih dahulu nilai mean dan standar deviasi. Hasil perhitungan mean dan standart deviasi kemudian dilakukan pengelompokan menjadi empat kategorisasi. Berdasarkan hasil penelitian kategorisasi ini dapat diketahu skor individu dalam kelompoknya merupakan estimasi terhadap skor individu dalam populasi. Adapun rinciannya sebagai berikut:

Tabel 7. Deskriptif Statistik

Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
Regulasi Emosi 206 207 315 263.06 28.641
Valid N (listwise) 206

Sumber: Output SPSS (2022)

Setelah mengetahui nilai mean dan stadarn deviasi, maka untuk mengkategorisasikan data pada masing-masing variabel dapat dilakukan. Perhitungan kategorisasi pada masing-masing variabel menggunakan bantuan Ms. Excel. Berikut rincian masing-masing kategorisasi variabel dalam penelitian ini:

Tabel 8. Hasil Uji Kategorisasi Regulasi Emosi

Rentan Skor Ketegori Frekuensi
X >291,70 Tinggi 27
263,06 < X ≤ 291,70 Cukup tinggi 83
234,42 < X ≤ 263,06 Cukup rendah 60
X ≤ 235,42 Rendah 36

Sumber: Hasil Output SPSS, diolah (2022)

Berasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa karyawan juru parkir wilayah Dinas Perhubungan Kabupaten Sidoarjo yang memiliki regulasi emosi dalam kategori rendah berjumllah 36 orang, 60 orang dalam kategori cukup rendah, 83 orang dalam kategori cukup tinggi dan 27 orang dalam kategori tinggi. Adapun prosentase kategori regulasi emosi karyawan juru parkir wilayah Dinas Perhubungan Kabupaten Sidoarjo disajikan pada gambar sebagai berikut:

Gambar 2. Prosentase Kategorisasi Regulasi Emosi

Berdasarkan gambar di atas, dapat diketahui bahwa karyawan juru parkir Dinas Perhubungan Kabupaten Sidoarjo dengan kategori rendah sebesar 18%, cukup rendah sebesar 29%, cukup tinggi sebesar 40% dan kategori tinggi sebesar 13%. Terkait demikian, dapat diketahui bahwa sebagian besar karyawan juru parkir Dinas Perhubungan Kabupaten Sidoarjo dalam kategori cukup tinggi.

Tabulasi silang dalam penelitian ini dilakukan untuk melihat sejauh mana tingkat penyebaran regulasi emosi dilihat dari karakteristik responden yaitu usia dan lama kerja. Berikut hasil tabulasi silang dalam penelitian ini:

Tabel 9. Tabulasi Silang Usia Responden dengan Regulasi Emosi

Usia * Kategorisasi Regulasi Emosi Crosstabulation
Count
Kategorisasi Regulasi Emosi Total
Rendah Cukup rendah Cukup tinggi Tinggi
Usia 20-25 tahun 6 8 13 3 30
26-30 tahun 10 14 15 2 41
31-35 tahun 4 13 23 10 50
Di atas 35 tahun 16 25 32 12 85
Total 36 60 83 27 206

Sumber: Output SPSS (2022)

Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa karyawan juru parkir Dinas Perhubungan Kabupaten Sidoarjo dengan usia antara 20-25 tahun dengan regulasi emosi dalam kategori rendah berjumlah 6 orang, kategori cukup rendah berjumlah 8 orang, kategori cukup tinggi berjumlah 13 orang dan kategori tinggi berjumlah 3 orang. Untuk karyawan juru parkir dengan usia antara 26-30 tahun dengan regulasi emosi rendah berjumlah 10 orang, kategori cukup rendah berjumlah 14 orang, kategori cukup tinggi berjumlah 15 orang dan kategori tinggi berjumlah 2 orang. Karyawan juru parkir dengan usia antara 31-35 tahun dengan regulasi emosi dalam kategori rendah berjumlah 4 orang, kategori cukup rendah 13 orang, kategori cukup tinggi berjumlah 23 orang dan kategori tinggi berjumlaj 10 orang. Adapun untuk karyawan dengan usia di atas 35 tahun dengan kategori regulasi emosi rendah berjumlah 16 orang, kategori cukup rendah berjumlah 25 orang, kategori cukup tinggi berjumlah 32 orang dan kategori tinggi berjumlah 12 orang.

Tabel 10. Tabulasi Silang Lama Bekerja dengan Regulasi Emosi

Lama Berkerja * Kategorisasi Regulasi Emosi Crosstabulation
Count
Kategorisasi Regulasi Emosi Total
Rendah Cukup rendah Cukup tinggi Tinggi
Lama Berkerja Di bawah 3 tahun 5 7 9 2 23
3-5 tahun 5 6 11 1 23
Di atas 5 tahun 26 47 63 24 160
Total 36 60 83 27 206

Sumber: Output SPSS (2022)

Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa karyawan juru parkir Dinas Perhubungan Kabupaten Sidoarjo dengan lama kerja kurang dari 3 tahun sebanyak 5 orang memiliki regulasi emosi rendah, 7 orang memiliki regulasi emosi cukup redah, 9 orang memiliki regulasi emosi cukup tinggi dan 2 orang memiliki regulasi tinggi. Untuk karyawan yang bekerja antara 3 sampai dengan 5 tahun, sebanyak 5 orang memiliki regulasi rendah, 6 orang memiliki regulasi cukup rendah, 11 orang memiliki regulasi cukup tinggi dan 1 orang memiliki regulasi tinggi. Adapun karyawan dengan lama bekerja di atas 5 tahun, sebanyak 26 orang memiliki regulasi emosi rendah, 47 orang memiliki regulasi diri cukup rendah, 63 orang memiliki regulasi diri cukup tinggi dan 24 orang memiliki regulais emosi tinggi.

  1. Crosstabs Karakteristik Responden dengan Regulasi Emosi
  2. Pembahasan

Berdasarkan pada rumusan masalah yang telah dipaparkan dan sesuai dengan analisis data yang dilakukan, dapat dijelaskan sebagai berikut:

Juru parkir adalah orang bagian lapangan yang bertugas mengatur, menata dan menjaga kendaran bermotor masyarakat di lingkungan Kabupaten Sidoarjo. Juru parkir memiliki tanggujawab besar atas kendaraan bermotor yang dititipkan atau yang diparkirnya. Ada beberapa tugas juru parkir, seperti memberikan pelayanan kepada semua kendaran yang masuk dan keluar tempat parkir, memberikan karcis parkir sebagai bukti retribusi sesuai dengan tarif yang ditentukan, menjaga ketertiban, kebersihan, keindahan dan membantu keamanan atas kendaraan yang diparkir, jika cuaca sedang terik juru parkir harus menutupi kendaraan dengan sesuai dan mengeluarkan kendaraan dengan aman dan lancar. Berdasarkan Peraturan Bupati Sidoarjo No 35 tahun 2012 tentang penyelenggaran parkir, juru parkir adalah orang yang dtugaskan pada tempat parkir yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah yang menggunakan atribut tertentu dan dilengkapi dengan Surat Tugas.

Berdasarkan hasil kategorisasi jawaban responden, diketahui sebagian besar karyawan juru parkir wilayah Dinas Perhubungan Kabupaten Sidoarjo memiliki regulasi emosi dalam kategori cukup tinggi yaitu 83 orang atau 40%. Hal ini menunjukkan bahwa karyawan juru parkir wilayah Dinas Perhubungan Kabupaten Sidoarjo memiliki kemampuan yang cukup tinggi dalam mengelola emosi dan menghadapi berbagai situasi yang terjadi. Selain itu, karyawan juru parkir wilayah Dinas Perhubungan Kabupaten Sidoarjo dianggap memiliki kemampuan cukup tinggi untuk mengatur strategi regulasi emosi, tidak mudah terpengaruh emosi negatif dan mampu mengontrol emosi.

Berdasarkan tabulasi silang, diketahui bahwa karyawan dengan usia di atas 35 tahun memiliki regulasi rendah terbanyak dan juga memiliki regulasi cukup tinggi dan tinggi terbanyak. Jika dilihat dari lama bekerja, karyawan dengan lam akerja di atas 5 tahun memiliki regulasi emosi rendah tertinggi dan regulasi emosi tinggi tertinggi. Hal ini menunjukkan bahwa dengan adanya kematangan diri karyawan juru parkir dan pengalaman kerja yang cukup, akan membuat mereka lebih memiliki regulasi diri yang baik.

Regulasi emosi merupakan kemampauan individu dalam memodifikasi emosi dan mengatur emosi. Berdasarkan pendapat [8], regulasi emosi sebagai cara yang dimiliki dan dilakukan individu mempengaruhi emosi yang dimiliki, kapan merasakannya dan bagaimana mereka mengalami atau mengekspresikan emosi tersebut. Kemampuan yang baik yang dimiliki individu akan meningkatkan kemampuannya dalam menghadapi berbagai situasi yang terjadi.

Berdasarkan hasil tabulasi silang, diketahui bahwa berdasarkan usia, juru parkir memiliki regulasi emosi rendah tertinggi yaitu pada usia di atas 35 tahun. Seiring dengan bertambahnya usia, seseorang akan mengalami penurunan regulasi emosi dalam dirinya. Hal ini sesuai dengan pendapat [9]2, dimana semakin bertambah usia maka kecenderungan untuk mengalami penurunan fungsi organ tubuh yang secara langsung berdampak pada respon mereka terhadap lingkungan sekitar.

Dari hasil tabulasi silang, diketahui bahwa berdasarkan lama kerja karyawan yang memiliki regulasi emosi rendah terjadi pada karyawan yang sudah bekerja lebih dari 5 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa dengan adanya pengalaman kerja yang dimiliki, tidak membuat sebagian besar karyawan juru parkir dapat mengendalikan emosi selama bekerja. Sependapat dengan [10]3, dimana pengalaman pekerja tidak menjamin mereka memiliki regulasi emosi yang baik. Secara keseluruhan berdasarkan pengalaman kerja, regulasi emosi karyawan juru parkir Dinas Perhubungan Kabupaten Sidoarjo masuk dalam kategori cukup baik.

Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian [11] yang menunjukkan bahwa regulasi emosi dalam kategori cukup tinggi dan membuktikan bahwa individu telah melakukan monitoring serta mampu melakukan evaluasi emosi tidak melakukan modifikasi emosi. [12] juga menunjukkan bahwa regulasi emosi tergolong baik. Selain itu, penelitian [13] menunjukkan bahwa regulasi emosi individu masuk dalam kategori baik.

Penelitian ini sudah dilakukan sesuai dengan pedoman yang ada, tetapi tidak menutup kemungkinan penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan, yaitu sampel yang digunakan sebatas pada karyawan juru parkir wilayah Dinas Perhubungan Kabupaten Sidoarjo. Sehingga hasil penelitian yang diperoleh mungkin akan menimbulkan perbedaan apabila dilakukan pada karyawan bagian lain atau karyawan institusi lain.

  1. Kesimpulan

Gambaran regulasi emosi pada karyawan juru parkir di wilayah Dinas Perhubungan Kabupaten Sidoarjo menunjukkan bahwa sebagian besar karyawan juru parkir wilayah Dinas Perhubungan Kabupaten Sidoarjo memiliki regulasi emosi dalam kategori cukup tinggi yaitu 40%. Berdasarkan usia dan lama bekerja, karyawann yang memiliki regulasi emosi rendah tertinggi yaitu usia di atas 35 tahun. Berdasarkan dari hasil penelitian, terdapat beberapa hal yang perlu dijadikan saran bagi pihak karyawan juru parkir wilayah Dinas Perhubungan Kabupaten Sidoarjo dan peneliti selanjutnya. Pihak karyawan juru parkir wilayah Dinas Perhubungan Kabupaten Sidoarjo disarankan untuk meningkatkan kemampuan dalam mengontrol emosi, seperti dengan meningkatkan rasa bersyukur, mengatur jadwal yang sesuai agar tidak terlalu lelah dan lebih peka terhadap lingkungan sekitar. Peneliti selanjutnya yang akan melakukan riset dengan tema sama, dapat menggunakan penelitian ini sebagai bahan perbandingan serta referensi penelitian. Selain itu, diharapkan untuk memperluas cakupan sampel penelitian dengan menggunakan karyawan di institusi lain.

Ucapan Terima Kasih

Alhamdulillahirobbil’alamin atas izin dan rahmat Allah SWT, penelitian ini akan saya persembahkan kepada

  1. Kedua orangtua Djauhari Tjatur Suwarno. S.H. dan Purnami Ningsih. S.E. karena sudah selalu mendoakan dan mendukung saya dalam pengerjaan skripsi ini.
  2. Terima kasih kepada Fathimatur Rosida. S.A.P. karena selalu memotivasi dan mendukung saya dalam pengerjaan penelitian ini. Dan menjadi salah satu motivasi dalam hidup saya.
  3. Terima kasih kepada dosen-dosen Prodi Psikologi Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo yang telah membagikan ilmunya.
  4. Terima kasih kepada teman – teman kelas B1 angkatan 2018 untuk kerja samanya dan semua hal yang telah kita lalui bersama. Semoga Allah membalas dengan kebaikan yang berlipat.

Penulis menyadari banyaknya kekurangan dalam penyusunan penelitian ini. Semoga penelitian ini memberikan manfaat bagi penulis pribadi maupun bagi yang membacanya.

Referensi

[1] Sulanjari, Ken. 2018. “Hubungan Antara Regulasi Emosi Dan Kepuasan Perkawinan Pada Individu Yang Menikah Lebih Dari 5 Tahun.” Universitas Sanata Dharma.

[2] Wulan, Dwi Kencana, and Nurmala Sari. 2015. “Regulasi Emosi Dan Burnout Pada Guru Honorer Sekolah Dasar Swasta Menengah Ke Bawah.” JPPP - Jurnal Penelitian dan Pengukuran Psikologi 4(2): 74-82americ.

[3] Muhammad Nazir. 2017. Metode Penelitian. Bogor: Ghalia Indonesia.

[4] Sulanjari, Ken. 2018. “Hubungan Antara Regulasi Emosi Dan Kepuasan Perkawinan Pada Individu Yang Menikah Lebih Dari 5 Tahun.” Universitas Sanata Dharma.

[5] Sulanjari, Ken. 2018. “Hubungan Antara Regulasi Emosi Dan Kepuasan Perkawinan Pada Individu Yang Menikah Lebih Dari 5 Tahun.” Universitas Sanata Dharma.

[6] Nansi, Deci, and Fajar Tri Utami. 2016. “Hubungan Antara Regulasi Emosi Dengan Perilaku Disiplin Santri Madrasah Aliyah Pondok Peantres Qodratulllah Langkan.” PSIKIS-Jurnal Psikologi Islami 2(1): 16–28.

[7] Saifuddin, Ahmad. 2020. Penyusunan Skala Psikologi. Jakarta: Kencana.

[8] Azwar. 2015. Metode Penelitian Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

[9] Sugiyono. 2017. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, Dan R&D. Bandung: Alfabeta.

[10] Azwar. 2012. Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

[11] Wulan, Dwi Kencana, and Nurmala Sari. 2015. “Regulasi Emosi Dan Burnout Pada Guru Honorer Sekolah Dasar Swasta Menengah Ke Bawah.” JPPP - Jurnal Penelitian dan Pengukuran Psikologi 4(2): 74-82americ.

[12] Setyaningsih, Setyaningsih. 2021. “Pengaruh Situasi Sosial Dan Nilai Budaya Madura Terhadap Regulasi Emosi Individu Etnis Madura.” Personifikasi: Jurnal Ilmu Psikologi 12(1).

[13] Putri, Farah Shabrina, and Dewi Syafirah. 2021. “Peran Regulasi Emosi Dalam Memoderasi Pengaruh Customer Incivility Terhadap Kelelahan Emosinal Pada Frontliner Bank.” BRPKM : Buletin Riset Psikologi dan Kesehatan Mental 2(1): 711–19.

[14] Purna, Rozi Sastra. 2020. “Gambaran Regulasi Emosi Guru Di Kota Padang.” Humanitas (Jurnal Psikologi) 4(2): 149–62.

[15] Putri, Rd Ira Anzaina. 2015. “Regulasi Emosi Pada Mahasiswa Fakultas Psikoligi Universitas Padjajaran Yang Bermain Angklung.” Jurnal Psikologi 3(2): 1–10.

[16] Rusmaladewi, Dewi Rosaria Indah, Intan Kamala, and Henny Anggraini. 2020. “Regulasi Emosi Pada Mahasiswa Selama Proses Pembelajaran Daring Di Program Studi PG-PAUD FKIP UPR.” Jurnal Pendidikan Dan Psikologi Pintar Harati 16(2): 33–46.

References

K. Sulanjari, “Hubungan Antara Regulasi Emosi Dan Kepuasan Perkawinan Pada Individu Yang Menikah Lebih Dari 5 Tahun,” Universitas Sanata Dharma, 2018.

D. K. Wulan and N. Sari, “Regulasi Emosi Dan Burnout Pada Guru Honorer Sekolah Dasar Swasta Menengah Ke Bawah,” JPPP Jurnal Penelitian dan Pengukuran Psikologi, vol. 4, no. 2, pp. 74–82, 2015.

M. Nazir, Metode Penelitian. Bogor: Ghalia Indonesia, 2017.

K. Sulanjari, “Hubungan Antara Regulasi Emosi Dan Kepuasan Perkawinan Pada Individu Yang Menikah Lebih Dari 5 Tahun,” Universitas Sanata Dharma, 2018.

K. Sulanjari, “Hubungan Antara Regulasi Emosi Dan Kepuasan Perkawinan Pada Individu Yang Menikah Lebih Dari 5 Tahun,” Universitas Sanata Dharma, 2018.

D. Nansi and F. T. Utami, “Hubungan Antara Regulasi Emosi Dengan Perilaku Disiplin Santri Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Qodratullah Langkan,” PSIKIS Jurnal Psikologi Islami, vol. 2, no. 1, pp. 16–28, 2016.

A. Saifuddin, Penyusunan Skala Psikologi. Jakarta: Kencana, 2020.

S. Azwar, Metode Penelitian Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015.

Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan RnD. Bandung: Alfabeta, 2017.

S. Azwar, Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012.

D. K. Wulan and N. Sari, “Regulasi Emosi Dan Burnout Pada Guru Honorer Sekolah Dasar Swasta Menengah Ke Bawah,” JPPP Jurnal Penelitian dan Pengukuran Psikologi, vol. 4, no. 2, pp. 74–82, 2015.

Setyaningsih, “Pengaruh Situasi Sosial Dan Nilai Budaya Madura Terhadap Regulasi Emosi Individu Etnis Madura,” Personifikasi Jurnal Ilmu Psikologi, vol. 12, no. 1, 2021.

F. S. Putri and D. Syafirah, “Peran Regulasi Emosi Dalam Memoderasi Customer Incivility Terhadap Kelelahan Emosional Pada Frontliner Bank,” BRPKM Buletin Riset Psikologi dan Kesehatan Mental, vol. 2, no. 1, pp. 711–719, 2021.

R. S. Purna, “Gambaran Regulasi Emosi Guru Di Kota Padang,” Humanitas Jurnal Psikologi, vol. 4, no. 2, pp. 149–162, 2020.

R. I. A. Putri, “Regulasi Emosi Pada Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran Yang Bermain Angklung,” Jurnal Psikologi, vol. 3, no. 2, pp. 1–10, 2015.

D. R. I. Rusmaladewi, I. Kamala, and H. Anggraini, “Regulasi Emosi Pada Mahasiswa Selama Pembelajaran Daring,” Jurnal Pendidikan dan Psikologi Pintar Harati, vol. 16, no. 2, pp. 33–46, 2020.